“Tiiiidaaaakkkk!!!”
seketika Kania menjerit ketakutan saat sampai di rumah barunya. Rumah baru itu
cukup besar, baru saja dibeli oleh papa Kania. Papa Kania berniat untuk pindah
ke rumah baru itu supaya Kania dapat melupakan kesedihannya atas meninggalnya
mamanya satu bulan yang lalu. Sementara, rumah yang lama disewakan untuk orang
lain.
“Kenapa kamu, Kania?”
tanya papa Kania heran. Semenjak mama Kania meninggal satu bulan yang lalu,
Kania memang sering berperilaku aneh. Ia sering berteriak sambil menangis
ketakutan.
“Pokoknya Kania nggak mau
tinggal di rumah ini, Pa!” sentak Kania. Air matanya bercucuran membasahi
pipinya. Tiba-tiba dia pingsan dan jatuh tergeletak di lantai. Papa Kania panik,
lalu Ia menelfon dokter untuk memeriksa Kania.
Dokter
pun tiba di rumah baru Kania, lalu Ia memeriksa Kania. 15 menit kemudian, Kania
pun sadar. “Pa..Kania kenapa?” tanya Kania lirih. Papa Kania yang dari tadi
berada di samping Kania pun menjawab, “Kamu tadi pingsan, Nak.” Papa Kania
bertanya kepada dokter kenapa Kania seperti itu. Papa Kania menceritakan semua
yang terjadi pada Kania kepada dokter. Setelah, mendengar cerita dari Papa
Kania, dokter menyarankan agar Kania dibawa ke psikolog.
***
“Kriinggg...”
jam weker di kamar Kania berbunyi, waktu menunjukkan pukul 5 pagi. Kania segera
beranjak dari tempat tidurnya, bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah barunya.
“Pagi, Pa..!!” sapa Kania
kepada Papanya yang sedang duduk di meja makan.
“Pagi, sayang. Sini
sarapan dulu!” balas Papa Kania sambil menunjukkan roti tawar yang ada di atas
meja makan.
Seperti biasa, mereka
hanya menyantap roti tawar dan susu sebagai hidangan sarapannya. Ya, mereka
hanya tinggal berdua. Tak ada pembantu, tak ada Ibu, jadi hanya sarapan seadanya.
Usai
sarapan, Kania dan Papanya segera berangkat ke sekolah baru Kania, SMA Garuda. Sesampainya
di sekolah, mereka langsung menuju ruang kepala sekolah untuk mendaftar. Kania
langsung diterima di sekolah itu. Betapa senang hati Kania dan Papanya.
“Terimakasih. Saya titip
anak saya disini ya, Bu.” kata Papa Kania sambil berjabat tangan dengan Ibu
kepala sekolah.
“Baik, Pak. Semoga anak
Bapak betah bersekolah disini.” jawab Ibu kepala sekolah.
“Ya sudah, Papa pergi
kerja dulu ya, Sayang.” kata Papa Kania kepada Kania.
“Iya, Pa.” balas Kania
sambil tersenyum.
Ibu
kepala sekolah membawa Kania ke kelasnya, kelas X4. Kania merasa tegang saat
itu, karena akan bertemu dengan teman-teman barunya.
“Kania, ini kelasmu, Nak.
Silakan masuk!” Ibu kepala sekolah mempersilakan Kania masuk. “Anak-anak, ini
teman baru kalian. Kania, silakan perkenalkan diri kamu!”
“Pagi,
teman-teman! Nama saya Kania Hapsinatra, panggilannya Kania.” ulas Kania
singkat. Teman-teman Kania menyambut dengan gembira.
“Silakan
duduk, Kania.” perintah Ibu kepala sekolah.
Tanpa
pikir panjang, Kania bergegas berjalan menuju tempat duduknya. Tapi,
tiba-tiba..... “brukk!!” Kania jatuh tersungkur di lantai. Ternyata ada anak
yang iseng menjegalnya. Anak itu adalah Doni, anak terjahil di kelas. Doni tertawa jahat melihat Kania terjatuh. Ia
tak mempedulikan situasi. Walaupun ada Ibu kepala sekolah disitu, Ia tetap tak
peduli.
“Dooniiiiii!!!!!!” bentak
Ibu kepala sekolah “Keterlaluan kamu. Kamu buat ulah lagi. IKUT IBU KE KANTOR!!!”
sifat galak Ibu kepala sekolah muncul. Kania tercengang. Ia tak menyangka, ibu
kepala sekolah yang dikiranya baik dan lemah lembut ternyata memendam sifat
galak. Seketika kelas menjadi hening. Tapi ketika Ibu kepala sekolah dan Doni
keluar kelas menuju kantor, kelas menjadi ramai kembali. Banyak anak di kelas
itu yang mau berkenalan dengan Kania. Kania dikerubungi banyak anak layaknya
artis yang sedang diwawancarai.
“Kriiinggg.....kringgg....!!”
bel sekolah berbunyi, tanda pelajaran telah selesai. Kania segera berjalan
keluar kelas menuju depan gerbang sekolah untuk menunggu jemputan. Tiba-tiba
ada seorang anak menghampirinya. “Hai, Kania..” sapa anak itu. “Eh, Juna..
hai.” balas Kania. Ya, anak itu namanya Juna, teman sekelas Kania.
“Masih nunggu jemputan,
Kan?” tanya Juna.
“Iya, nih.” jawab Kania.
Tiba-tiba
handphone Kania berdering, ada panggilan dari Papanya. Papa Kania mengabari
bahwa Ia agak telat menjemput Kania karena ada meeting mendadak.
“Ah, Papa. Meeting terus,
meeting terus. Kapan ada waktu buat Aku. Masa’ Aku harus nunggu berjam-jam
disini.” gerutu Kania.
“Kamu pulang bareng Aku
aja, Kan.” kata Juna menawarkan “Tapi motor aku baru diservis di bengkel
sebelah, mungkin udah selesai.”
“Hm..gimana ya?” Kania bingung “Oke,
deh.” akhirnya Kania setuju.
Akhirnya,
Kania pulang bareng Juna. Kebetulan Kania dan Juna adalah tetangga, tapi Kania
tidak menyadari hal itu. Di perjalanan, turun hujan lebat. Kania dan Juna
berteduh di suatu tempat. Kania merasa kedinginan, badannya menggigil. Juna tak
kuasa melihat hal itu, Ia melepas jaket yang dikenakannya lalu dipinjamkan ke
Kania.
“Terimakasih,
Jun.” kata Kania sambil tersenyum memandangi Juna. Juna pun hanya membalasnya
dengan senyum manisnya.
“Jam berapa sih, Jun?”
tanya Kania pada Juna.
“Jam dua lewat tiga
belas.” jawab Juna.
“Tiga belas??” bisik
Kania lirih. “Tidaakkk...tidaakk!!” Kania berteriak ketakutan sembari menutupi
kedua telinganya.
“Kamu kenapa, Kan?” tanya
Juna panik.
Kania
tidak menjawab dan malah menangis ketakutan. Juna heran dengan apa yang terjadi
pada Kania. Karena terlalu panik, Ia langsung mengajak Kania pulang ke rumah.
Setibanya
di rumah Kania, Kania terdiam dan memaku memandangi pintu rumahnya yang
bertuliskan angka ‘13’. “Tiiidaaaakkk..!!” lagi-lagi Kania berteriak ketakutan
sambil menangis. Juna yang masih ada bersamanya dibuatnya semakin panik.
Akhirnya, Juna memutuskan membawa Kania ke rumahnya, Ia berpikir siapa tau Ibunya
bisa membantu. Kebetulan Ibu Juna adalah seorang psikolog.
Sampailah
mereka di rumah Juna. Juna segera meminta Ibunya untuk memeriksa Kania. Setelah
mendengar semua yang diceritakan Kania, Ibu Juna berkata, “Kania, kamu terkena triskaidekaphobia[1], yaitu
ketakutan pada angka 13.” Kania memang merasa ketakutan jika melihat atau
mendengar 13. Hal itu dialaminya semenjak mamanya meninggal satu bulan yang
lalu, yaitu tepat pada tanggal 13 Oktober, pukul 13.00 WIB. Kania merasa
terpukul atas kejadian tersebut. Itulah sebabnya Kania menjadi phobia pada
angka 13. Jika Kania melihat angka 13, Ia berasa melihat sesuatu yang
mengerikan. Pikirannya melayang kemana-mana. Ia menganggap angka 13 adalah
angka sial.
“Phobia[2]
harus dilawan, Kan, bukan dihindari. Jika kamu ingin sembuh, lawanlah
ketakutanmu.” kata Juna.
“Tapi aku nggak bisa,
Jun.” timpal Kania.
“Kamua pasti bisa, Kan.
Aku yakin.” Juna menyakinkan. Kania hanya manggut-manggut ragu.
Juna
menuliskan sesuatu ke selembar kertas, lalu menunjukkannya pada Kania. Kania
merasa ketakutan melihat apa yang ditulis Juna. Ternyata Juna menulis angka 13.
“Lawan ketakutanmu, Kan.
Tenanglah.” Juna mencoba menenangkan Kania. Akhirnya, Kania merasa tenang,
“Awalilah dengan menganggap 13 itu hal yang biasa, Kan.” ulas Juna.
***
Pada
suatu hari, Juna meminta Kania membantunya. Ia meminta Kania membelikan lilin
berbentuk angka 13 untuk ulang tahun adiknya. Kania mulai ketakutan, tapi dia
coba melawannya.
Di
toko tempat membeli lilin, Kania ragu ingin mengambil lilin angka 13 itu.
Tiba-tiba Ia menangis. Tapi Ia berbicara dalam hatinya, “Aku nggak boleh takut,
Aku nggak boleh nangis. Aku harus melawannya.” Akhirnya, Kania memberanikan
diri untuk mengambil lilin itu. Walaupun agak ketakutan, Kania tetap membawakan
lilin itu sampai ke rumah Juna. Juna bangga melihat itu, ada peningkatan dari
Kania.
“Jun...”
lirih Kania. Dia memandangi Juna dengan rasa ketakutan. Jelas saja, karena saat
itu Juna mengenakan kaos bertuliskan angka 13. Juna hanya tersenyum melihat
Kania. Tapi Kania malah marah-marah kepada Juna. Kania berpikir Juna sengaja
mengerjainya.
“Apa-apaan
sih, Jun? Kamu sengaja ngerjain Aku ya?” bentak Kania sambil menangis. Lalu Ia
membalikkan badannya untuk meninggalkan Juna.
“Enggak,
Kan. Aku lakukan ini semua karena Aku sayang kamu.” teriak Juna spontan. Kania
yang sedang berjalan menuju pintu tiba-tiba menghentikan langkahnya mendengar
perkataan Juna. “Aku ingin kamu sembuh dari penyakit ini, Kan.” tambah Juna.
Kania menengok ke belakang tanpa berkata apa-apa, yang ada hanya senyum manis
yang dilemparkan ke Juna, dan Ia pergi begitu saja.
Juna
melakukan hal-hal kecil untuk membantu menyembuhkan penyakit Kania. Lambat
laun, Kania mulai terbiasa dengan angka 13, tetapi, masih ada sisa ketakutan
ada dalam dirinya. Kania juga berusaha keras untuk menghilangkan rasa ketakutan
itu.
***
Satu bulan kemudian, penyakit Kania
mulai sembuh. Ia tak merasa ketakutan lagi pada angka 13. Tapi Ia merasa sedih,
karena akhir-akhir ini Juna tidak menampakkan dirinya. Juna juga tidak pernah
masuk sekolah. Kania tidak sempat mengunjungi Juna karena kesibukannya. Ia
merasa rindu pada Juna. Ia menyadari bahwa Ia sesungguhnya sangat menyayangi
Juna.
Hari
ini tepat tanggal 13 Desember, hari ulang tahun Juna. Kania memutuskan datang
ke rumah Juna untuk menjenguk sekalian memberi kejutan ulang tahun. Ia
menyiapkan kue ulang tahun dan kado untuk Juna.
Setibanya
di rumah Juna, Kania heran mengapa rumah itu sangat sepi. Ia mengetuk pintu
rumah Juna, tetapi tak ada jawaban. Ia coba mengetuk pintu lagi dan akhirnya Ibu
Juna membukakan pintu. Ibu Juna kelihatan berlinangan air mata.
“Tante
kenapa?” tanya Kania penasaran.
Ibu
Juna tidak menjawab dan meminta Kania masuk. Kania melihat Juna terbaring lemah
di kamarnya dengan infus di tangannya. Juna ternyata mengidap penyakit kanker
otak, tapi Ia tidak mau dibawa ke rumah sakit. Kania diam dan menjadi sedih.
Air matanya bercucuran melihat keadaan Juna.
Juna
tersadar dan tersenyum melihat Kania, “Hai, Kania. Aku baik-baik saja, kok.
Sekarang aku mau tidur dulu ya, aku capek.”
Seisi
kamar menangis mendengar kata-kata yang diucapkan Juna. Juna tertidur untuk
selamanya, tidak akan bangun lagi. Kania menangis tersedu-sedu, Ia tak bisa
membendung air matanya.
Sambil
menahan isak tangis, Ibu Juna memberikan selembar kertas kepada Kania. Kertas
itu adalah surat dari Juna untuk Kania.
“Hai, Kania. Selamat ya, kamu sudah bisa
melawan phobiamu, dan kamu sudah sembuh. Aku ikut senang, ternyata perjuanganku
membuahkan hasil. Tapi di hari ulang tahunku ini Aku harus pergi, Kan. Maaf aku
nggak pernah ngasih tau hal ini ke kamu. Aku nggak mau hal ini menjadi beban
pikiranmu. Maaf ya, Kan, Aku pernah membuatmu marah. Terimakasih, Kania. Kau
telah memberiku kenangan terindah. Selamat tinggal. Jangan sedih, ya. Aku
baik-baik saja kok. Aku sayang kamu. Tertanda: Juna” begitulah isi surat
itu. Kania semakin tidak dapat membendung air matanya. Ia telah kehilangan
orang yang amat disayanginya sekaligus pahlawannya. “Terimakasih, Juna.
Walaupun kau telah pergi, rasa sayangku tetap abadi” kata Kania dalam hati.
***
“Tigabelas..
Kau slalu menghantuiku
Kau..
Tanggal dimana Aku merasa kehilangan
Kehilangan dua orang yang amat kusayangi
Tigabelas..
Kau slalu menguras air mataku, bahkan suaraku
Tapi tidak untuk saat ini
Akan ku buang hal-hal buruk darimu
dan akan kutemukan yang baik-baik”
Kau slalu menghantuiku
Kau..
Tanggal dimana Aku merasa kehilangan
Kehilangan dua orang yang amat kusayangi
Tigabelas..
Kau slalu menguras air mataku, bahkan suaraku
Tapi tidak untuk saat ini
Akan ku buang hal-hal buruk darimu
dan akan kutemukan yang baik-baik”
Kania
menuliskan puisi di selembar kertas putih, lalu kertas itu dimasukkan ke botol
dan dibuang ke laut lepas. Ia berharap penyakit triskaidekaphobianya tidak akan hadir kembali dalam hidupnya. “Selamat
tinggal triskaidekaphobia”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar