Rabu, 29 Januari 2014

TRISKAIDEKAPHOBIA (Cerpen)

         “Tiiiidaaaakkkk!!!” seketika Kania menjerit ketakutan saat sampai di rumah barunya. Rumah baru itu cukup besar, baru saja dibeli oleh papa Kania. Papa Kania berniat untuk pindah ke rumah baru itu supaya Kania dapat melupakan kesedihannya atas meninggalnya mamanya satu bulan yang lalu. Sementara, rumah yang lama disewakan untuk orang lain.
“Kenapa kamu, Kania?” tanya papa Kania heran. Semenjak mama Kania meninggal satu bulan yang lalu, Kania memang sering berperilaku aneh. Ia sering berteriak sambil menangis ketakutan.
“Pokoknya Kania nggak mau tinggal di rumah ini, Pa!” sentak Kania. Air matanya bercucuran membasahi pipinya. Tiba-tiba dia pingsan dan jatuh tergeletak di lantai. Papa Kania panik, lalu Ia menelfon dokter untuk memeriksa Kania.
            Dokter pun tiba di rumah baru Kania, lalu Ia memeriksa Kania. 15 menit kemudian, Kania pun sadar. “Pa..Kania kenapa?” tanya Kania lirih. Papa Kania yang dari tadi berada di samping Kania pun menjawab, “Kamu tadi pingsan, Nak.” Papa Kania bertanya kepada dokter kenapa Kania seperti itu. Papa Kania menceritakan semua yang terjadi pada Kania kepada dokter. Setelah, mendengar cerita dari Papa Kania, dokter menyarankan agar Kania dibawa ke psikolog.
***
            “Kriinggg...” jam weker di kamar Kania berbunyi, waktu menunjukkan pukul 5 pagi. Kania segera beranjak dari tempat tidurnya, bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah barunya.
“Pagi, Pa..!!” sapa Kania kepada Papanya yang sedang duduk di meja makan.
“Pagi, sayang. Sini sarapan dulu!” balas Papa Kania sambil menunjukkan roti tawar yang ada di atas meja makan.
Seperti biasa, mereka hanya menyantap roti tawar dan susu sebagai hidangan sarapannya. Ya, mereka hanya tinggal berdua. Tak ada pembantu, tak ada Ibu, jadi hanya sarapan seadanya.
            Usai sarapan, Kania dan Papanya segera berangkat ke sekolah baru Kania, SMA Garuda. Sesampainya di sekolah, mereka langsung menuju ruang kepala sekolah untuk mendaftar. Kania langsung diterima di sekolah itu. Betapa senang hati Kania dan Papanya.
“Terimakasih. Saya titip anak saya disini ya, Bu.” kata Papa Kania sambil berjabat tangan dengan Ibu kepala sekolah.
“Baik, Pak. Semoga anak Bapak betah bersekolah disini.” jawab Ibu kepala sekolah.
“Ya sudah, Papa pergi kerja dulu ya, Sayang.” kata Papa Kania kepada Kania.
“Iya, Pa.” balas Kania sambil tersenyum.
            Ibu kepala sekolah membawa Kania ke kelasnya, kelas X4. Kania merasa tegang saat itu, karena akan bertemu dengan teman-teman barunya.
“Kania, ini kelasmu, Nak. Silakan masuk!” Ibu kepala sekolah mempersilakan Kania masuk. “Anak-anak, ini teman baru kalian. Kania, silakan perkenalkan diri kamu!”
            “Pagi, teman-teman! Nama saya Kania Hapsinatra, panggilannya Kania.” ulas Kania singkat. Teman-teman Kania menyambut dengan gembira.
            “Silakan duduk, Kania.” perintah Ibu kepala sekolah.
            Tanpa pikir panjang, Kania bergegas berjalan menuju tempat duduknya. Tapi, tiba-tiba..... “brukk!!” Kania jatuh tersungkur di lantai. Ternyata ada anak yang iseng menjegalnya. Anak itu adalah Doni, anak terjahil di kelas.  Doni tertawa jahat melihat Kania terjatuh. Ia tak mempedulikan situasi. Walaupun ada Ibu kepala sekolah disitu, Ia tetap tak peduli.
“Dooniiiiii!!!!!!” bentak Ibu kepala sekolah “Keterlaluan kamu. Kamu buat ulah lagi. IKUT IBU KE KANTOR!!!” sifat galak Ibu kepala sekolah muncul. Kania tercengang. Ia tak menyangka, ibu kepala sekolah yang dikiranya baik dan lemah lembut ternyata memendam sifat galak. Seketika kelas menjadi hening. Tapi ketika Ibu kepala sekolah dan Doni keluar kelas menuju kantor, kelas menjadi ramai kembali. Banyak anak di kelas itu yang mau berkenalan dengan Kania. Kania dikerubungi banyak anak layaknya artis yang sedang diwawancarai.
“Kriiinggg.....kringgg....!!” bel sekolah berbunyi, tanda pelajaran telah selesai. Kania segera berjalan keluar kelas menuju depan gerbang sekolah untuk menunggu jemputan. Tiba-tiba ada seorang anak menghampirinya. “Hai, Kania..” sapa anak itu. “Eh, Juna.. hai.” balas Kania. Ya, anak itu namanya Juna, teman sekelas Kania.
“Masih nunggu jemputan, Kan?” tanya Juna.
“Iya, nih.” jawab Kania.
            Tiba-tiba handphone Kania berdering, ada panggilan dari Papanya. Papa Kania mengabari bahwa Ia agak telat menjemput Kania karena ada meeting mendadak.
“Ah, Papa. Meeting terus, meeting terus. Kapan ada waktu buat Aku. Masa’ Aku harus nunggu berjam-jam disini.” gerutu Kania.
“Kamu pulang bareng Aku aja, Kan.” kata Juna menawarkan “Tapi motor aku baru diservis di bengkel sebelah, mungkin udah selesai.”
“Hm..gimana ya?” Kania bingung “Oke, deh.” akhirnya Kania setuju.
            Akhirnya, Kania pulang bareng Juna. Kebetulan Kania dan Juna adalah tetangga, tapi Kania tidak menyadari hal itu. Di perjalanan, turun hujan lebat. Kania dan Juna berteduh di suatu tempat. Kania merasa kedinginan, badannya menggigil. Juna tak kuasa melihat hal itu, Ia melepas jaket yang dikenakannya lalu dipinjamkan ke Kania.
            “Terimakasih, Jun.” kata Kania sambil tersenyum memandangi Juna. Juna pun hanya membalasnya dengan senyum manisnya.
“Jam berapa sih, Jun?” tanya Kania pada Juna.
“Jam dua lewat tiga belas.” jawab Juna.
“Tiga belas??” bisik Kania lirih. “Tidaakkk...tidaakk!!” Kania berteriak ketakutan sembari menutupi kedua telinganya.
“Kamu kenapa, Kan?” tanya Juna panik.
            Kania tidak menjawab dan malah menangis ketakutan. Juna heran dengan apa yang terjadi pada Kania. Karena terlalu panik, Ia langsung mengajak Kania pulang ke rumah.
            Setibanya di rumah Kania, Kania terdiam dan memaku memandangi pintu rumahnya yang bertuliskan angka ‘13’. “Tiiidaaaakkk..!!” lagi-lagi Kania berteriak ketakutan sambil menangis. Juna yang masih ada bersamanya dibuatnya semakin panik. Akhirnya, Juna memutuskan membawa Kania ke rumahnya, Ia berpikir siapa tau Ibunya bisa membantu. Kebetulan Ibu Juna adalah seorang psikolog.
            Sampailah mereka di rumah Juna. Juna segera meminta Ibunya untuk memeriksa Kania. Setelah mendengar semua yang diceritakan Kania, Ibu Juna berkata, “Kania, kamu terkena triskaidekaphobia[1], yaitu ketakutan pada angka 13.” Kania memang merasa ketakutan jika melihat atau mendengar 13. Hal itu dialaminya semenjak mamanya meninggal satu bulan yang lalu, yaitu tepat pada tanggal 13 Oktober, pukul 13.00 WIB. Kania merasa terpukul atas kejadian tersebut. Itulah sebabnya Kania menjadi phobia pada angka 13. Jika Kania melihat angka 13, Ia berasa melihat sesuatu yang mengerikan. Pikirannya melayang kemana-mana. Ia menganggap angka 13 adalah angka sial.
Phobia[2] harus dilawan, Kan, bukan dihindari. Jika kamu ingin sembuh, lawanlah ketakutanmu.” kata Juna.
“Tapi aku nggak bisa, Jun.” timpal Kania.
“Kamua pasti bisa, Kan. Aku yakin.” Juna menyakinkan. Kania hanya manggut-manggut ragu.
            Juna menuliskan sesuatu ke selembar kertas, lalu menunjukkannya pada Kania. Kania merasa ketakutan melihat apa yang ditulis Juna. Ternyata Juna menulis angka 13.
“Lawan ketakutanmu, Kan. Tenanglah.” Juna mencoba menenangkan Kania. Akhirnya, Kania merasa tenang, “Awalilah dengan menganggap 13 itu hal yang biasa, Kan.” ulas Juna.
***
            Pada suatu hari, Juna meminta Kania membantunya. Ia meminta Kania membelikan lilin berbentuk angka 13 untuk ulang tahun adiknya. Kania mulai ketakutan, tapi dia coba melawannya.
            Di toko tempat membeli lilin, Kania ragu ingin mengambil lilin angka 13 itu. Tiba-tiba Ia menangis. Tapi Ia berbicara dalam hatinya, “Aku nggak boleh takut, Aku nggak boleh nangis. Aku harus melawannya.” Akhirnya, Kania memberanikan diri untuk mengambil lilin itu. Walaupun agak ketakutan, Kania tetap membawakan lilin itu sampai ke rumah Juna. Juna bangga melihat itu, ada peningkatan dari Kania.
            “Jun...” lirih Kania. Dia memandangi Juna dengan rasa ketakutan. Jelas saja, karena saat itu Juna mengenakan kaos bertuliskan angka 13. Juna hanya tersenyum melihat Kania. Tapi Kania malah marah-marah kepada Juna. Kania berpikir Juna sengaja mengerjainya.
            “Apa-apaan sih, Jun? Kamu sengaja ngerjain Aku ya?” bentak Kania sambil menangis. Lalu Ia membalikkan badannya untuk meninggalkan Juna.
            “Enggak, Kan. Aku lakukan ini semua karena Aku sayang kamu.” teriak Juna spontan. Kania yang sedang berjalan menuju pintu tiba-tiba menghentikan langkahnya mendengar perkataan Juna. “Aku ingin kamu sembuh dari penyakit ini, Kan.” tambah Juna. Kania menengok ke belakang tanpa berkata apa-apa, yang ada hanya senyum manis yang dilemparkan ke Juna, dan Ia pergi begitu saja.
            Juna melakukan hal-hal kecil untuk membantu menyembuhkan penyakit Kania. Lambat laun, Kania mulai terbiasa dengan angka 13, tetapi, masih ada sisa ketakutan ada dalam dirinya. Kania juga berusaha keras untuk menghilangkan rasa ketakutan itu.
***
            Satu bulan kemudian, penyakit Kania mulai sembuh. Ia tak merasa ketakutan lagi pada angka 13. Tapi Ia merasa sedih, karena akhir-akhir ini Juna tidak menampakkan dirinya. Juna juga tidak pernah masuk sekolah. Kania tidak sempat mengunjungi Juna karena kesibukannya. Ia merasa rindu pada Juna. Ia menyadari bahwa Ia sesungguhnya sangat menyayangi Juna.
            Hari ini tepat tanggal 13 Desember, hari ulang tahun Juna. Kania memutuskan datang ke rumah Juna untuk menjenguk sekalian memberi kejutan ulang tahun. Ia menyiapkan kue ulang tahun dan kado untuk Juna.
            Setibanya di rumah Juna, Kania heran mengapa rumah itu sangat sepi. Ia mengetuk pintu rumah Juna, tetapi tak ada jawaban. Ia coba mengetuk pintu lagi dan akhirnya Ibu Juna membukakan pintu. Ibu Juna kelihatan berlinangan air mata.
            “Tante kenapa?” tanya Kania penasaran.
            Ibu Juna tidak menjawab dan meminta Kania masuk. Kania melihat Juna terbaring lemah di kamarnya dengan infus di tangannya. Juna ternyata mengidap penyakit kanker otak, tapi Ia tidak mau dibawa ke rumah sakit. Kania diam dan menjadi sedih. Air matanya bercucuran melihat keadaan Juna.
            Juna tersadar dan tersenyum melihat Kania, “Hai, Kania. Aku baik-baik saja, kok. Sekarang aku mau tidur dulu ya, aku capek.”
            Seisi kamar menangis mendengar kata-kata yang diucapkan Juna. Juna tertidur untuk selamanya, tidak akan bangun lagi. Kania menangis tersedu-sedu, Ia tak bisa membendung air matanya.
            Sambil menahan isak tangis, Ibu Juna memberikan selembar kertas kepada Kania. Kertas itu adalah surat dari Juna untuk Kania.
            “Hai, Kania. Selamat ya, kamu sudah bisa melawan phobiamu, dan kamu sudah sembuh. Aku ikut senang, ternyata perjuanganku membuahkan hasil. Tapi di hari ulang tahunku ini Aku harus pergi, Kan. Maaf aku nggak pernah ngasih tau hal ini ke kamu. Aku nggak mau hal ini menjadi beban pikiranmu. Maaf ya, Kan, Aku pernah membuatmu marah. Terimakasih, Kania. Kau telah memberiku kenangan terindah. Selamat tinggal. Jangan sedih, ya. Aku baik-baik saja kok. Aku sayang kamu. Tertanda: Juna” begitulah isi surat itu. Kania semakin tidak dapat membendung air matanya. Ia telah kehilangan orang yang amat disayanginya sekaligus pahlawannya. “Terimakasih, Juna. Walaupun kau telah pergi, rasa sayangku tetap abadi” kata Kania dalam hati.
***
            “Tigabelas..
            Kau slalu menghantuiku
            Kau..
            Tanggal dimana Aku merasa kehilangan
            Kehilangan dua orang yang amat kusayangi
            Tigabelas..
            Kau slalu menguras air mataku, bahkan suaraku
            Tapi tidak untuk saat ini
            Akan ku buang hal-hal buruk darimu
            dan akan kutemukan yang baik-baik”
            Kania menuliskan puisi di selembar kertas putih, lalu kertas itu dimasukkan ke botol dan dibuang ke laut lepas. Ia berharap penyakit triskaidekaphobianya tidak akan hadir kembali dalam hidupnya. “Selamat tinggal triskaidekaphobia




[1] Penyakit ketakutan pada angka 13
[2] Penyakit ketakutan

~Rika Rahmawati~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar