Selasa, 28 Januari 2014

Shymphony Biru (Puisi)

Kala jemu menghujam kalbu
gundah gulana saling bertemu
mengurung rasa menahan rindu
bisu.. hanya bisa membisu

Dalam sunyi rasa sepi, memang..
tiada teman tiada kawan
tiada canda tiada tawa

Jari-jari mungilku takkan biarkan
melihat sang tuan bermuram durja
mereka meraba lagi mencari-cari
teman untuk sang tuan.. itu yang dicari

akhirnya mereka temukan..
kawan tak bernyawa tapi hidup
tak bisa melihat tapi bisa bersuara
mereka jamak tapi satu

do.. re.. mi.. fa.. so.. la.. si...
tujuh komponen yang berlipat ganda
bertemu bersatu dan berpadu
menunggu jari-jari mungil itu mengadu

si manis, si telunjuk, dan si ibu jari kidal tiba
bermain dengan tiga di antara mereka..
menari bersama.. serentak..
harmonis...

kubu kanan seakan tak mau kalah
mereka curahkan semua elemen..
bermain dengan tujuh komponen itu..
indah..

kubu kanan dan kubu kiri bagaikan rival
bertikai, bersaingan, tapi padu
selaras, koheren..

mereka lantunkan sebuah nyanyian..
nyanyian tanpa vokal..
hanya irama dan nada..
merangkai sebuah shymphony
melambangkan pilu nan sedu
biru.. sungguh biru..

rangkaian irama dan nada itu terus mengalir
merasuk dalam kalbu sang tuan
larut bersama satu warna..
mereka bereaksi..mencipta suatu senyawa..
sukar bercerai, sulit berpisah
senyawa itu..shymphony biru..




Tidak ada komentar:

Posting Komentar